Dari Pelaksanaan Denpasar Film Festival
Rai Mantra : Jadi Edukasi Publik, dan Dokumentasi Bagi Generasi Kedepan
Film dokumenter salah satu indutri kreatif menjaring sineas – sineas muda, yang nantinya mampu mendokumentasikan kegiatan seni dan budaya, serta upakara yang dimiliki Bali pada umumnya dan Denpasar pada khususnya. Disamping itu lewat Denpasar Film Festival dapat sebagai edukasi publik masyarakat serta menjadi dokumentasi bagi generasi kedepan tentang adat, seni budaya yang dimiliki Kota Denpasar. hal ini diungkapkan Walikota I.B Rai Dharmawijaya Mantra, Kamis (13/6) saat menerima panitia Denpasar Film Festival di ruang kerjanya kantor setempat.
Lebih lanjut Walikota Rai Mantra mengatakan workshop dan Denpasar Film Festival yang telah dilaksankan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar sebagai program serius yang dapat berjalan secara berkelanjutan, karena saat ini pendokumentasian budaya yang dimiliki sangat lemah. Sehingga diharapkan dalam workshop dan festival film dokumenter ini dapat memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang pembuatan film dokumenter. Seperti Seniman Made Taro yang melestarikan permainan tradisional anak-anak, dapat dilakukan pendokumentasian, sehingga generasi kedepan dapat melihat dan mengetahui bagaimana permainan tradisional anak-anak itu dipermainkan dan dikembangkan. Disamping itu beberapa seni tari Kota Denpasar yakni Tari Baris Wayang, Wayang Wong, serta seni budaya lainnya dapat dilakukan dokumentasi sebagai arsip selain dibuatkan buku. Rai Mantra juga menjelaskan Dokumenter dapat dilakukan mulai dari upakara, yadnya, seni, organisasi sosial, sistem ekonomi seperti LPD, serta seni budaya yang telah mengalami transformasi teknologi. Seperti tradisi menyurat lontar yang saat ini telah mengalami trasnformasi teknologi komputerisasi, yang nantinya dapat dijadikan dokumenter untuk arsip generasi kedepan. “dalam membuat film dokumenter hal yang sangat penting terkait tokoh dan materi yang dilakukananya,†ujar Rai Mantra, sembari mengharapkan film dokumenter dalam festival ini dapat diputar, dan sebagai edukasi publik kepada masyarakat di lapangan Puputan Badung, I Gusti Ngurah Made Agung.
Sementara Kadis Kebudayaan Made Mudra mengatakan saat ini seni budaya Bali telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga pelaksanaan workshop dan Denpasar Film Festival dapat sebagai kegiatan kreatif dalam mendokumentasikan berbagai kegiatan seni budaya yang dimiliki Kota Denpasar. Dalam perkembangan seni budaya ini pihaknya kedepan akan merekrut orang-orang pelatihan film dokumenter untuk melakukan dokumentasi tentang beberapa seni budaya Denpasar, seperti tari baris, topeng, dan asal muasal barong landung. Disamping itu juga pihaknya telah melibatkan beberapa seniman Denpasar, serta para tokoh pelaku seni untuk mengkaji seni budaya yang ada di Kota Denpasar khsusunya. Kegiatan Denpasar Film Festival dijadikan agenda tahunan dalam meningkatkan kreatfitas khusunya senias muda dalam melakukan dokumentasi kegiatan budaya di Kota Denpasar. Juri-juri yang bepartisipasi dalam kegiatan Film Festival ini adalah Slamet Raharjo (aktor dan kurator), Lawrence Blair (peraih nominasi Emmy Award), Prof. Dr. I Made Bandem (seniman dan budayawan Bali), Rio Helmi (penulis dan fotografer) dan I Wayan Juniartha (jurnalis). Total 10 karya terbaik dari para peserta nantinya akan diputar pada 19-22 Agustus di Inna Bali Hotel Denpasar. Acara puncak akan diselenggarakan pada 24 Agustus ditandai dengan malam penganugerahan pemenang lomba film dokumenter.