Menu

WAYAN NUKA PENETAS TELUR ITIK, DARI BANJAR CENKILUNG

  • Senin, 30 Agustus 2010
  • 1197x Dilihat
WAYAN NUKA PENETAS TELUR ITIK, DARI BANJAR CENKILUNG
Usaha penetasan telur itik atau bebek merupakan kegiatan yang sudah dilakukan peternak sejak bertahun-tahun. Akan tetapi pola penetasan petani masih menggunakan cara alami dengan memanfaatkan ayam atau entok sebagai sarana penetasan. Metode penetasan telur itik yang lebih modern menggunakan Mesin Tetas telur itik atau bebek dengan berbagai macam model. Peluang usaha di bidang penetasan telur itik cukup terbuka. Peluang penetasan telur itik dengan menggunakan mesin penetas telah diterapkan oleh Wayan Nuka asal Banjar Cengkilung, Desa Peguyangan Kangin Kecamatan Denpasar Utara. Wayan Nuka yang juga anggota kelompok Sumber Rejeki saat ditemui di rumahnya Minggu (29/8) mengaku usaha penetasan telur itik yang dilakukan selama ini memiliki potensi untuk mendatangkan keuntungan. Terlebih lagi setelah menadapat bantuan mesin penetas modern dari Pemerintah Kota Denpasar serta bimbingan tentang cara-cara pentasan dari Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Denpasar membuat usaha yang dilakukan semakin lancer. “Sebelum mendapatkan bantuan dari Pemkot Denpasar, Saya menetaskan telur dengan memanfaatkan entok atau ayam yang sedang mengeram,” ujar Wayan Nuka. Setelah mendapatkan bantuan mesin penetas, Ia mengaku produksi penetasan bisa di atur setelah menggunakan mesin penetasan, sebelumnya penetasan yang dilakukan tergantung dengan ada tidaknya ayam atau entok yang sedang mengeram. Saat ini Ia memiliki 4 mesin penetas yang mana setiap mesin mampu menampung 100 butir telur bebek yang akan ditetaskan. Dari 100 butir telur yang ditetaskan pada setiap mesin penetas keberhasilan yang ditetaskan mencapai 90% (persen). Untuk menetaskan telor ini Nuka mengaku hanya membutuhkan waktu 28 hari. Sebelum mendapat binaan dari Disnakanlut Kota Denpasar, sering mengalami kegagalan untuk menetaskan telur itik tersebut. Hal ini karena temperatur terlalu panas untuk menetaskan telur. Dan sekarang setelah sering melakukan percobaan dan bimbingan dari Pemkot Denpasar akhirnya kegagalan tidak pernah lagi. Lebih lanjut Wayan Nuka menambahkan penetasan telur itik dengan menggunakan mesin penetas bisa diatur sehingga telur yang ditetaskan bisa menetas bertepan dengan hari pasaran. Sehingga dengan demikian pemasarannyapun tidak menjadi masalah. Bahkan Nuka mengaku saat ini kewalahan melayani pesanan karena banyak yang memesan itik yang baru ditetaskan. Terlebih lagi saat ada upacara-upacara agama permintaan terhadap itik terus meningkat. Untuk seekor itik yang baru ditetaskan seharga Rp 4.000,- untuk itik betina dan Rp 3.000,- untuk itik jantan. Sedangkan untuk yang baru mentas dengan bulu warna putih seharga Rp 10.000,-. Untuk itik yang khusus dibutuhkan saat upacara tertentu seperti warna putih, hitam dan lainnya Nuka mengaku memeliharanya sehingga lebih besar dan harganyapun cukup lumayan mahal yang mencapai Rp 50 ribu per ekor. Untuk memperoleh telur yang akan ditetaskan Nuka mengaku memelihara itik sebanyak 800 ekor. Sehingga telur yang akan ditetaskan tidak perlu membeli lagi.(Gst)