Klir wayang (sebuah layar berwarna putih berbentuk empat persegi panjang dengan panjang 2 hingga 12 meter) terbentang dibingkai dengan ukiran kayu berwarna coklat telah terpasang rapi dipanggung Wantilan Art Centre Denpasar, Rabu (18/6) malam. Cahaya sentir atau pelita dari balik klir wayang redup-redup beberapa kali dihidupkan kembali oleh salah satu tim pementasan Lomba Dalang Cilik Duta Kota Denpasar. Dalang cilik Komang Wahyu Widiantara masih duduk ditempat penonton bersama sanak keluarganya yang hadir memberikan suport. Tokoh seniman pedalangan Denpasar pun tampak ikut hadir salah satunya Dalang Kembar, serta pengamat seni pedalangan dari Pemerintah Propinsi Bali.
Suara gender wayang yang dimainkan dua orang penabuh pria dan dua orang penabuh wanita mulai menggema terkadang sayup-sayup hilang dan kembali mengglegar diikuti tepuk tangan ratusan para pengunjung PKB yang menyaksikan atraksi dalang cilik Kota Denpasar. Dari belakang klir wayang si dalang cilik telah bersiap beraksi dengan persiapan alat pentas mikrofon yang tergantung dilehernya. Ketukan tangan kananya tak ragu-ragu menghentakan keropak wayang yang terbuat dari kayu. Dua ketongkong (peladen dalang) mengambil beberapa wayang dan ditancapkan pada pelepah pisang berukuran besar. Liukan Kayonan Wayang mulai dimainkan si dalang cilik yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini. Dengan suara yang khas dibalutkan nyanyian kidung suci sebagai pembuka pementasannya yang mengangkat kisah "Gugurnya Patih Kecaka". Mendengar suara khas dalang cilik Denpasar beberapa pengunjung PKB saat itu satu persatu memasuki areal wantilan.
Beberapa tokoh wayang seperti Yudistira, Bima, Arjuna dan Nakula Saha Dewa telah tersusun rapi dibelakang klir wayang dengan pembina pedalangan Made Raka Sukada. Diawali dengan kisah pandawa yang memasuki masa hukumnya sebagai abdi Prabu Wirata. Disini dikisahkan para Pandawa merubah namanya masing - masing. Yudistira bernama kawijakangka yang bertugas sebagai pendamping para pendeta, Bima sebagai juru masak dengan nama Belawa, Arjuna dengan nama Werhatnala yang bekerja sebagai pembina tari dan kerawitan, serta Nakula Sahadewa merubah namanya menjadi Grantika Grantipala yang mengambil pekerjaan pengembara lembu dan kuda. Sedangkan istri dari Pandawa, Diah Drupadi merubah namanya menjadi Sailandri. Berbagai banyolan cerita pun diselipkan sang dalang dengan melanjutkan cerita yang mengisahkan Patih Kacaka yang tergila-gila melihat kecantikan Sailandri. Patih Kecaka melakukan berbagai usaha untuk merayu Sailandri agar dia mau menjadi istrinya. Untuk mensukseskan keinginanya, Kecaka juga meminta pertolongan kepada kakaknya Dewi Sujesna tiada lain adalah istri Sang Prabu Matsyapati. Sehingga Sailandri pun kebingungan dan menyampaiakan hal tersebut kepada Belawa. Dari akal citanya Belawa, Sailandri disuruh untuk mau menepati kehendak Patih Kecaka untuk bertemu pada tengah malam. Namun yang menanti kedatang Kecaka adalah Belawa, Sehingga terjadilah perang hebat antara Belawa dan Kecaka. Yang malam itu Belawa mampu membunuh Kecaka, yang membuat gempar Negara Wirata atas gugurnya Kecaka ditempat orang berkesenian. (Pur/humasdps)