Masalah sampah menjadi tantangan bagi Kota besar di Indonesia. Sampah yang tidak dimanfaatkan dengan baik akan mengakibatkan banjir, terlebih lagi pada saat musim hujan. Sering kita temukan di beberapa ruas jalan, air got atau selokan menjadi naik ke permukaan jalan karena terhambat alirannya akibat dari adanya sampah yang menumpuk di got tersebut. Selain itu pula sampah ini dapat menyebabkan timbulnya penyakit juga dapat merusak pemandangan. Terlebih lagi Kota Denpasar sebagai kota urban, menjadikan permasalahan pengelolaan sampah sebagai tantangan utnuk mewujudkan lingkunganyang sehat dan bersih. hal ini dibutuhkan peran serta dari seluruh masyarakat untuk bahu membahu melakukan penanganan masalah sampah, mulai dari rumah tangga sendiri yang nantinya diharapkan dapat membawa dampak pada keberihan lingkungan perkotaan.
Dari permasalahan lingkungan tersebut saat ini di Kota Denpasar beberapa masyarakat sudah mulai sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. hal ini dapat dilihat dari munculnya beberapa Lembaga Sosial Masyaarakat (LSM) yang melakukan gebrakan dibidang lingkungan. salah satunya DCG Berlians (Denpasar Clean and Greenberbudaya, lestari, indah, nyaman, dan sehat). Kelompok pemerhati lingkungan hidup ini bergerak melakukan penanganan sampah yang ada di lingkungan masyarakat dan juga memberikan penyuluhan ke berbagai tempat mengenai cara pengolahan sampah. “kami terus mendorong kepada banjar-banajr di Kota Denpasar untuk membuat tong-tong sampah di setiap lingkungan, dengan selalu melakukan edukasi merubah perilaku masyarakat saat ini yang sering membuang sampah sembarangan,” ujar Ketua DCG Berlians, yang juga Direktur PPLH Bali Catur Yudha Hariani saat ditemui, Minggu (16/3) di kantor DCG Berlians Denpasar.
Ia mengungkapkan, sampah jika sudah dimanfaatkan dengan baik selain menjaga lingkungan, juga dapat mencegah banjir. Tidak semua sampah itu harus dibakar dan dibuang begitu saja karena sampah yang dibakar akan menambah CO2 di udara dan juga jika ditanam di tanah akan merusak lapisan tanah, kesuburan tanah dan dapat menyebabkan terjadinya banjir. Karena sampah yang terbuat dari bahan-bahan tertentu tidak dapat diurai dengan cepat.
Sehingga pihaknya saat ini tidak saja menyasar banjar-banjar untuk memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah yang melibatkan 60 orang kader peduli lingkungan, namun juga telah menyasar 3 ruang publik di Kota Denpasar seperti Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung, Taman Kota Lumintang, dan Pantai Sanur. Hal ini bertujuan untuk mengkampanyekan pengelolan sampah kepada masyarakat, yang nantinya diharapkan dapat berdampak pada perubahan perilaku dimasing-masing rumah tangga. Dengan telah terbentuya bank sampah di masing-masing desa saat ini tidak saja masyarakat melakukan pengumpulan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi namun juga dapat melakukan pengolahan sampah sebagai barang kerajinan. Menurutnya DCG yang terbentuk sejak Bulan Juli 2013 lalu telah memiliki 37 nasabah, serta melakukan pengolahan sampah an organik menjadi barang kerajinan. “sampah sangat memilki nilai ekonomi jika diolah secara tepat dan benar, seperti dapat dijadikan tas, topi, dan berbagai produk kerajinan lainnya,” ujar Bu Catur. Saat ini produk kerajinan dari bahan sampah hasil kreasinya telah dipesan oleh beberapa daerah di Indonesia maupun di Mancanegara, seperti Belanda dan Australia. Ia mengharapkan kelompok Ibu-ibu yang tergabung dalam PKK di setiap banjar dapat menggagas perubahan perilaku untuk pengelolaan sampah di masing-masing rumah tangga. “Masalah pemilahan sampah di lingkungan masyarakat menjadi tantangan yang sangat berat, apalagi Denpasar sebagai Kota besar, namun hal ini dapat dilakukan dengan membuat tong-tong sampah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah semabarangan,” ujarnya. (Pur/humasdps)