Bahaya minyak jelantah atau minyak goreng yang digunakan berulang kali untuk menggoreng bahan makanan belum banyak disadari masyarakat. Minyak ini sangat berbahaya bagi kesehatan karena senyawa-senyawa penyusun minyak dapat mengalami perubahan fisika dan perubahan kimia. Untuk itu, sebuah Lembaga Non Pemerintah (NGO) dari Swiss yakni Caritas Switzerland Green Fuels akan menjadikan Denpasar sebagai percontohan dalam hal mengolah minyak jelantah yang dihasilkan oleh hotel dan restauran di Denpasar menjadi biodiesel. Demikian diungkapkan CEO of Green Fuels James Hygate didampingi Pua Muhammad Saleh saat melakukan audiensi kepada Walikota Denpasar yang diterima oleh Sekda Denpasar AAN Rai Iswara, Jumat (28/2) di ruang kerjanya Kantor Walikota Denpasar.
Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa pengolahan minyak jelantah menjadi biodisel sangat penting dilakukan untuk mengurangi dampak negatif kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya Pemkot Denpasar untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara preventif. “Dengan demikian, akan mampu mengurangi biaya sosial dan sekaligus meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat. Karena apabila minyak jelantah dibiarkan digunakan masyarakat dalam jangka panjang, akan berdampak buruk bagi kesehatan mereka”, kata James.
Walikota melalui Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara mengatakan bahwa Kota Denpasar akan terus mengembangakan kreatifitas dan inovasi untuk mengatasi limbah yang dihasilkan oleh masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan agar masyarakat bisa hidup dengan layak di atas bumi Kota Denpasar. Itulah sebabnya Pemkot Denpasar menyambut baik dan mendukung upaya yang dilakukan oleh Caritas Switzerland Green Fuels, untuk menjadikan mengolah minyak jelantah menjadi biodisel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin motor disel. Sesuai hasil uji lab dari BLH Kota Denpasar, bahwa biodisel mengeluarkan emisi (gas buang) yang jauh lebih rendah dari pada bahan bakar lainnya
Lebih lanjut dikatakan oleh Sekda Rai Iswara yang didampingi Oleh Plt. Kepala Bappeda Kota Denpasar Dewa Nyoman Semadi, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Denpasar AA Bagus Sudharsana, serta Kabag Humas dan Protokol IB Rahoela bahwa Pemkot Denpasar disamping mengembangkan kreatifitas dan inovasi juga akan berkoordinasi serta mengambil langkah-langkah yang strategis bagi usaha-usaha khususnya yang bergerak pada industri makanan, hotel dan restauran serta instansi yang terkait untuk mendukung program ini serta ikut berpartisipasi mengawasi agar minyak jelantah tidak lagi beredar di kalangan masyarakat. Dengan demikian kita secara bersama-sama ikut membangun dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Kota Denpasar.
Sebagai pengetahuan kita bahwa penggunaan minyak jelantah secara berulang-ulang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan dapat mencemari lingkungan hidup kita. Saat ini ditengarai bahwa minyak jelantah masih banyak digunakan oleh pedagang-pedagang makanan. Dan pada kesempatan itu pula Pemkot Denpasar menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak mempergunakan minyak jelantah sebagai komponen dalam mengolah makanan serta tidak membuang begitu saja tetapi mengumpulkan dan dapat menjual kepada pengolah minyak jelantah yang ada di Kota Denpasar. Dengan demikian kita semua ikut menjaga kesehatan masyarakat dan lingkungan Kota Denpasar. (Ngurah HUMAS Dps).