Sebagai Ajang Introfeksi Diri
Denpasar- Serangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1936, Pemkot Denpasar menggelar Dharma Santhi, setelah Kecamatan Denut, Kecamatan Dentim dan Kecamatan Denbar, kali ini giliran Kecamatan Denpasar Selatan Saniscara Paing Jiyestha Warigadean Pangelong Ping Kutus Sasih Jiyestha (3/5) di Wantilan Pura Dalem Kedewatan Desa Pakraman Denpasar. Acara ini dihadiri langsung Walikota Denpasar IB Rai Dhamawijaya Mantra di dampingi Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, Camat Denpasar Selatan AA Gde Risnawan, Kapolsek Denpasar Selatan Nanang Prihasmoko dan Danrambil 161102 Denpasar Selatan Kapten Budianto. Acara Dharma Santhi diawali dengan Pengwacen Sloka dari anak-anak Widya Sabha Desa Pakraman Sanur, serta dimeriahka dengan Bondres Dungki Ngelayung.
Camat Denpasar Selatan AA Gde Risnawan mengatakan, Dharma Santhi ini merupakan rangkian dar Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1936. Pada Hari raya Nyepi masyarakat sudah melaksanakan Catur Bratha Penyepian yakni, Amati Geni, Amati Lelanguan, Amati Lelungan dan Amati Karya. Dilanjutkan dengan Dharma Santhi yang bertujuan untuk memberi informasi kepada masyarakat bahwa Hari Raya Nyepi adalah penekanan dan pengendalian diri. Agar bisa menumbuhkan Tri Hita Karana yakni berpikir, berkata, berbuat, sehingga masyarakat bisa menerapkan pelaksanaan Hari Raya Nyepi itu.
Menurutnya, dalam setahun ini masyarakat telah melaksanakan berbagai perbuatan baik maupun buruk. Pada Hari Raya Nyepilah kembali ketitik nol yakni, dengan introfeksi diri, untuk melangkah kedepan menjadi lebih baik didalam mengadapi jaman globalisasi. Dimana jaman globalisasi sangat berat bagi agama Hindu khususnya di Bali, “Dengan adanya Hari Raya Nyepi ini kita semua bisa introfeksi, membentengi diri. Agar ajaran Hari Raya Nyepi bisa kita terapkan untuk paradigma yang lebih bagus di masyarakat,” ujar Risnawan.
Lebih lanjut dikatakan, dalam Hari Raya Nyepi umat Hindu sudah bisa introfeksi diri dan menekan diri untuk Amati Geni, Amati Lelanguan, Amati Lelungan dan Amati Karya. “Amerti Geni dalam hal ini artinya menekan emosi, jiwa, sehingga kita mampu mengendalikan diri sesuai dengan cerita Lumdaka,” katanya. Namun pada saat Hari Raya Nyepi masih ada masyarakat yang berkumpul-kumpul untuk mengadakan judi.
Sehingga dalam Dharma Santhi ini, pihaknya mengundang Ida Pedanda Wayahan Wanasari untuk memberikan wejangan kepada semua masyarakat, karena beliau bisa mengutip ajaran suci yang terbaik. Setelah wejangan yang diberikan, dapat dipahami oleh masyarkat dan menerapkan pada hari Hari Raya Nyepi yang selanjutnya. “Melalui Dharma Santhi ini saya harapkan masyarakat itu bisa mengerti dan memahami dari pada Hari Raya Nyepi itu,” ungkap Risnawan.
Risnawan menambahkan, masih banyak masyarakat yang belum mengerti tentang Hari Raya Nyepi, sehingga dalam Dharma Santhi ini pihaknya melibatkan semua tokoh-tokoh Adat, Dinas, Kepala Desa, Kepala Lurah, Jero Bendesa, Sekaa Truna dan masyarakat yang ada di Kecamatan Denpasar Selatan. Sedangkan, kegiatan Dharma Santhi ini setiap tahun dilaksanakan secara bergiliran dimasing-masing Desa Pakraman. Selain menggelar Dharma Santhi dari Kecamatan, masing-masing Desa Pakraman juga telah melaksanakannya. Hal itu dilakukan agar Dharma Santhi itu dipahami mulai dari lingkup Desa Pakrman dan Banjar. “Walupun sangat sederhana tapi memberikan pemahaman tentang penyepian,” katanya. (Ayu Windari /humas).