Seiring dengan berkembangnya industri pariwisata dan meningkatnya kompetensi daerah tujuan wisata maka, diperlukan adanya kerjasama yang baik antara masyarakat dengan pihak-pihak terkait secara maksimal dengan memanfaatkan segala potensi lokal yang ada. Hotel menjadi salah satu usaha kepariwisataan yang mampu memperkenalkan potensi budaya seperti kuliner Bali, yang merupakan salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung. Chef dan hotel sangat dibutuhkan sebagai “invisible hands” yang mampu mengangkat kuliner Bali ke dunia internasional. Demikian disampaikan Walikota I.B Rai Dharmawijaya Mantra saat bertatap muka dengan pelaku kepariwisataan yang terdiri dari Chef, dan general manager hotel se-Kota Denpasar, Senin (16/12) di ruang pertemuan Gedung Graha Sewaka Dharma.
Lebih lanjut Walikota I.B Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan kuliner negara lain yang telah mendunia semua didukung oleh “invisible hands”, sebagai contoh masakan nasi lemak khas negara Malaysia yang terkenal hingga internasional. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah mengeluarkan buku 30 Jenis menu masakan Nusantara, dimana kuliner Bali hanya masuk sate lilit saja. Padahal Bali memiliki banyak potensi kuliner yang harus terus diperkenalkan kepada para wisatawan domestik dan internasional. Beberapa potensi kuliner Bali lainnya seperti “loloh” yang belum dieksplore dengan maksimal, sehingga kurang populer dibandingkan jamu-jamu yang beredar dipasaran. VISI Kota Denpasar, yakni Denpasar kreatif berwawasan budaya, dengan terus menggali potensi lokal yang ada, seperti endek, kuliner, dan interior dengan menggandeng profesional untuk membantu memperkenalkan akar budaya kepada masyarakat maupun wisatawan.
Lewat “Balinese Rijsttafel Cooking Competition” yang merupakan pra event Denpasar Festival yang dilaksanakan beberapa waktu lalu diikuti beberapa pengusaha hotel untuk melakukan pengembangan inspirasi chef, yang nantinya kuliner bali dapat masuk pada usaha kepariwisataan. Hal ini sejalan dengan pandangan Walikota bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat harus mampu menekan kebocoran ekonomi yang ada. Untuk Denpasar ditenggarai terjadi kebocoran ekonomi dengan kisaran 42 persen. Kebecoran ekonomi itu disebabkan karena tidak maksimalnya pemanfaatan sumber daya-sumberdaya ekonomi lokal akibat dari desakan sumberdaya dari luar. Sebagai contoh kita memiliki potensi tenun endek tetapi kita tidak mau menggunakannya, dan memanfaatkan market di hotel-hotel ataupun ditempat-tempat pariwisata lainnya. Dengan demikian potensi manfaat ekonomis sumber daya lokal ini menjadi hilang. Hal ini juga akan terjadi di bidang kuliner karenanya Walikota Rai Mantra meminta kepada pengusaha hotel kedepan harus mampu menyediakan minimal 10 persen kuliner bali ataupun potensi-potensi lokal lainnya.
Ketua Indonesian Chef Association (ICA)BPD Bali, Komang Adi Arsana mengapresiasi kebijakan Pemkot Denpasar dengan menggandeng pengusaha pariwisata untuk lebih meperkenalkan kuliner Bali kepada para wisatawan. Melalui organisasi ICA profesional chef dapat lebih dikenal serta menunjukan potensi lokal yang nantinya mampu mengangkat kuliner Bali. Disamping itu SDM sangat mempengaruhi dalam rangka meningkatkan standar mutu makanan yang mengacu pada food safety. Seperti makanan rengginang sebagai produk olahan lokal dapat dijadikan menu makanan kepada para wisatawan. “Dalam melakukan promosi masakan Bali ini yang harus tetap menjaga higienis dengan budaya Bali yang arif tanpa menodai religius masyarakat Bali,” ujarnya. (Pur/humasdps)