Kisahkan Tukad Wongan, dan "Rare Roro"
Duta Kota Denpasar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXVI mendatang siap menampilkan berbagai atraksi seni budaya. Kali ini duta Kota Denpasar siap menampilkan kesenian Topeng Panca dan Arja Remaja. Kesiapan ini ditunjukan pada pembinaan kesenian Topeng Panca dan Arja remaja oleh Tim Pembina PKB Propinsi Bali, Senin (26/5) bertempat di Pura Tambangan Badung, Desa Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat.
Diiringi Sekaa Gong Carat Coblong, Desa Pemecutan Kelod, kesenian Topeng Panca Duta Kota Denpasar akan menampilkan kisah "Wongan" yang juga diisi dengan pertunjukan Tari Topeng Tua dan Topeng Keras. "Topeng Panca Duta Kota Demnpasar akan menampilkan kisah tentang kerajaan Gelgel, yang dikejutkan dengan kedatangan Sira Arya Tegeh Kuri," ujar Pembina Topeng Panca, I Putu Adi Sujana saat ditemui disela-sel pembinaan. Lebih lanjut dikatakan Batara Dalem yang sedang melaksanakan parum terkejut dengan kedatanagn Sira Arya Tegeh Kuri yang hendak melaporkan kendala yang dialami rakyat Badung atau Bandana Negara. Dalam persidangan Batara Dalem memutuskan untuk memberikan kebebasan asalkan mencari yang terbaik dan mensejahterakan khusunya daerah Bandana Negara. Lebih lanjut di daerah Badung, Ida Cokorda Pemecutan (Cokorda Jambe Merik) setelah mendapatkan perintah dari Ida Betara Dalem di Gelgel mengutus Patih Sawung Galing untuk membuat empelan agar air sungai bisa naik dan dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah. dalam melakukan hal tersebut Patih Sawung Galing tidak mampu melakukannya, serta melanjutkannya dengan bersemedi ditepi sungai tersebut. dalam semedinya Patih Sawung Galing mendapatkan pawisik dalam membuat empelan tersebut harus didasari dengan yadnya manusia sebagai dasar empelan. Hal ini langsung dilaporkan Patih Sawung Galing kepada Raja Badung, serta Ia siap mejadi dasar yadnya empelan. Sejak saat ini sungai padas diberi nama Tukad Wongan.
Sementara Arja Remaja dari Sekaa Pasraman Prabha Budaya, Br. Lumintang, Desa Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara mengangkat kisah "Rare Roro". Menurut pembina tari Ngurah Bagus Supartama, kisah ini menceritakan tentang pondok padukuhan wilayah kerajaan Jong Wesi dengan dua orang dukuh bersaudara. Keduanya diberi tugas oleh raja dari Kerajaan Rangdu Wregsa untuk mengasuh anak kembarnya. Karena diemban diwilayah pedukuhan anak kembar raja tersebut diberi nama Wayan Rare dan I Made Roro. Wayan Rare sangat gemar mengupas isi-isi sastra, namun sebaliknya Made Roro suka dengan kehidupan glamor. "dari cerita inilah kami ingin mengangkat sebuah garapan tari Arja remaja yang nantinya diharapkan mampu menghibur masyarakat yang hadir di PKB mendatang," ujarnya. (pur/humasdps)