Menu

Sekaa Angklung Brahmara Sni Banjar Bun

  • Selasa, 01 Juli 2014
  • 981x Dilihat

Duta Kesenian Kota Denpasar

Sekaa Angklung Brahmara Sni Banjar Bun, Kelurahan Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur timpil di ajang PKB XXXVI sebagai Duta Kesenian Kota Denpasar, Selasa sore (1/7) di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar. Penampilan sekaa angklung ini membawakan gamelan angklung yang diperkirakan berasal dari abad ke-18 yang masih kelihatan sangant bagus. Untuk penampilannya didukung oleh 28 penabauh dari kalangan anak muda dan dewasa menampilkan 4 jenis garapan tabuh.

"Gamelan yang ditampilkan ini benar-benar berasal dari Br. Bun, karena sejak jaman kolonial berlanda belum pernah di rubah, meski para penglisir menanam gamelan ini pada sumur tua agar tidak dirampas Belanda," ujar Jero Mangku Made Aya. Menurutnya gamelan tersebut baru diangkat setelah Indonesia merdeka. Seka gamelan angklung telah berada sejak dahalu, dan Ia tidak tahu sekaa sekarang ini generasi keberapa. Lebih lanjut Jero Mangku Made Aya menambahkan dipilihnya sekaa ini sebagai Duta Kota Denpasar karena satu-satunya sekaa yang melestarikan gamelan angklung. Untuk penampilan tabuh klasik Dinas Kebudayaan Kota Denpasar menunjuk sekaa ini mengingat gamelan ini sifatnya skral. Menurutnya sebelumnya beberapa kali ingin dipentaskan namun selalu gagal. Jero Mangku Made Aya juga tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. "Ini merupakan pertunjukkan yang pertama kali, astukara bisa berjalan lancar," ujarnya.

Sekaa Angklung Brahmara Sni yang dibina I Nyoman Sudarma menampilkan empat tabuh diantaranya tabuh kemang tangis, tabuh ngisep jegogan, tabuh jaring bukal dan tabuh bebatelan. Jero Mangku Made Aya menambahkan memainkan jenis gamelan ini terbilang lebih susah dari tabuh lainnya karena kotekannya banyak dan sulingnyapun berbeda. "Kami bersyukur sekaa ini diberi kesempatan untuk tampil pada ajang PKB dan memperkenalkan pada masyarakat luas tentang keberadaan gamelan angklung skral ini," ujarnya. Menurutnya selama ini sedikit generasi muda yang tertarik mempelajari tetabuhan ini mengingat tingkat kesulitan yang cukup tinggi. "Kami sangat setuju dengan program pemerintah yang memberikan kesempatan dalam menampilkan tabuh klasik. Diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk terus melestarikan gamelan klasik ini," harapnya. (Gst_Humas)