Menu

Sekaa Gong Anak Cipta Dharma Kanti Duta Kota Denpasar

  • Rabu, 18 Juni 2014
  • 1623x Dilihat

Padukan Kekinian Dengan Permainan Kendang Melalui Dolanan "Gegebug"

Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan jaman sangat berpengaruh pada prilaku manusia. Terutama pada anak-anak yang keinginannya selalu ingin tahu dan perilaku yang membuat dirinya senang. Sangat berbeda pada jaman Kertamasa dimana saat anak-anak belajar, bergaul dan bermain belum dipengaruhi teknologi sehingga keiginan dan prilaku sangat sederhana. Lebih mementingkan kebersamaan dan sangat tergantung pada alam sekitarnya. Seiring dengan dua fenomona tersebut Sekaa gong anak Cipta Dharma Kanti, Br. Paang Kelod, Penatih, Kecamatan Denpasar Timur Duta Kota Denpasar mengkolaborasikan jaman kekinian dengan permainan kendang melalui dolanan "Gegebug". Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar I Made Mudra, ditemui disela-sela menyaksikan penampilan gong anak-anak duta Kota Denpasar, Selasa malam (17/6) di panggung terbuka Art Center, Denpasar.  Penampilan Duta Kota Denpasar yang berhadapan dengan seka gong anak-anak Kumara Giri Duta Kabupaten Tabanan disaksikan langsung Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra yang didampingi Wakil Walikota IGN Jaya Negara serta SKPD.

"Kami harapkan melalui dolanan ini anak-anak tidak pernah melupakan kebersamaan dengan memadukan melodi gamelan kendang," ujar Mudra. Dalam permainan dolanan ini menurut Mudra lebih menonjolkan lagu sekar Rare merupakan salah satu peninggalan budaya tradisional simbul dari kebersamaan dalam permainan anak-anak.

Disamping menampilkan dolanan tersebut Duta Kota Denpasar juga menampilkan berbagai garapan yang sesuai dengan Tema PKB ke XXXVI yaitu Kertamasa yang berarti melambangkan dinamika kehidupan masyarakat agraris menuju kesejahteraan semesta. Seperti garapan tabuh kreasi Lembu Petak dimana garapan ini mengajak masyarakat Bali untuk selalu ingat dengan pesan (bisama) dari leluhur untuk tidak membajak sawah pada hari Kamis. Kisah ini diawali dengan sebuah keyakinan di mana masyarakat Hindu khususnya para petani tidak berani membajak sawah pada hari tertentu. Mengingat ada mitos di masyarakat terdahulu dimana begawan Wrherspati diberi titah Hyang Siwa untuk tidak melakukan kerjaan berkaitan dengan sawah dan membajak dengan lembu karena hari itu beryoganya Sang Hyang Siwa. Mingingat lembu sebagai tunggangan Hyang Siwa dan Uma atau Sawah saktinya Hyang Siwa juga. Sehingga sampai sekarang para petani masih meyakinan hal tersebut.

Disamping menampilan garapan tersebut Duta Kota Denpasar juga menampilkan tari Tani serta gong kebyar kreasi "Meka". Dimana kreasi ini menampilkan carut marut yang merambah sekitar kehidupan manusia.(Gst_Humas)