Perkembangan Globalisasi Harus Diimbangi Dengan Perkembangan Budaya
Perkembangan globalisasi yang berkembang dengan pesat harus diimbangi dengan perkembangan budaya baik mental, sipiritual maupun produk budaya dengan pesat pula. “Bila semua itu berjalan dengan baik, ini yang saya dimaksud dengan konsep berwawasan budaya,” ujar Rai Mantra disela-sela meninjau lomba membuat lawar serangkaian menyambut HUT ke-226 Kota Denpasar di Halaman Kantor Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Minggu (26/2). Lomba membuat Ngelawar, Banten Perani dan Sate Renteng yang diikuti seka teruna teruni se-Kota Denpasar juga dihadiri Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, dan Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara.
Lebih lanjut Rai Mantra menambahkan dengan adanya pembelajaran budaya sejak dini pada generasi muda merukan hal yang sangat luar biasa. Mengingat mereka merupakan generasi penerus yang harus melestarikan budaya. “Intinya Pemerintah Kota Denpasar sangat mendukung semua kegiatan budaya termasuk dalam pelestariannya,” ujar Rai Mantra. Dalam kesempatan tersebut Walikota Rai Mantra memuji dan memberikan apresiasi adanya regenerasi dalam lomba yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan ini.
Kegiatan ngelawar atau mebat dikalangan umat Hindu merupakan hal yang lumrah. Dari sekedar kegiatan hoby hingga berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan. Seiring dengan berjalannya waktu kebiasaan tersebut kini jarang dijumpai. Mebat atau ngelawar yang sudah menjadi tradisi bagi umat Hindu dimanapun, juga mampu mendorong tumbuh kembangnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Denpasar. “Peluang ini harus mampu diangkat dan dikembangkan, ini salah satu bentuk pelestarian budaya Bali”, ujar Rai Mantra.
Sementara Kadis Kebudayaan Kota Denpasar Made Mudra, lomba yang melibatkan seluruh Sanggar dan STT di Kota Denpasar bertujuan untuk memasyarakatkan sekaligus melestarikan tradisi mebat di kalangan masyarakat khususnya dikalangan generasi muda. “Sehingga walaupun era teknologi modern terus mendera bangsa ini, tradisi mebat dikalangan umat hindu di Bali harus tetap lestari dan terjaga”, ungkapnya. Bahkan sejalan dengan perkembangannya ngelawar sekarang sudah menjadi mata pencaharian yang mampu memberi nilai tambah yang signifikan terhadap pendapatan keluarga. Lomba kali ini masing-masing peserta diwajibkan membuat tiga bentuk hidangan dari jenis olahan yang berbeda. Seperti; ngelawar dengan memakai bahan olahan babi, bebek, klungah maupun nyawan (tawon) yang terbagi dalam tiga jenis hidangan yaitu lawar, sate dan perani. Dari 42 peserta yang ikut serta akan dipilih 6 terbaik dan berhak atas hadiah berupa piala, piagam dan hadiah berupa uang.(Gst_Humas)