Denpasar- Penampilan Sendratari Sutasoma Paramawisesa yang dibawakan seniman Kota Denpasar Bali pada Puncak HUT ke-39 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Minggu (20/4) yang mengisahkan tentang perjalanan Sang Sutasoma menginspirasi lahirnya falsafah Bhineka Tunggal Ika yang dicetuskan oleh Mpu Tantular. Garapan yang ditata dengan apik dan artisitik oleh seniman-seniman Denpasar membuat para penonton yang memadati Teater Bhineka Tunggal Ika berdecak kagum dan terkesima. Tidah hanya itu para penonton mendapatkan hikmah dan pelajaran sejarah dalam penampilan Dramatari Sutosama Parawisesa.
Dikisahkan Sang Sutasoma menolak dinobatkan menjadi raja di Kerajaan Hastina sebelum mendapat pencerahan Parama Sunya dari Sang Bhuda. Bhatara Indra menaruh harapan dari ibu Sutasoma. Sehingga Bhagawan Sumitra kepada Jayantaka dan Sutasoma karena keduanya sedang gigih memperjuangkan prinsip-prinsip kebenaran untuk mendamaikan kehidupan di bumi.
Dalam perjalanan Sutasoma bertemu dengan Kesawa dan mendapat anugrah Mahahrdayadharani dari Widyutkarali serta berbagai rintangan Sang Naga Raja dan Sang Macan merupakan pelebur sifat-sifat himsa karma. Sutasoma juga bertemu dengan Bhgawan Sumitra yang tidak lain adalah kerabat ayahnya. Mereka mebicarakan tentang silsilah keluarga Prabhu Kasi, yang juga kakak dari Sutasoma. Kemudian Bhagawan Sumitra memberikan petunjuk letak pertapaan Bhatara Guru di puncak Mahameru. Bhagawan Sumitra memberikan pesan untuk menemui Prabu Dasabahu dan adiknya Diah Candrawati di Kerajaan Kasi setelah keberhasilannya dalam bertapa.
Selanjutnya, Sutasoma melakukan Tapa Yoga Semadi di Puncak Mahameru, godaan binatang puas, alam dan bidadari bisa dilewati. Disaat Bhatara dan Narada cemas menyaksikan kegagalan para bidadari munculah Wairocana Sang Janapati Budha memberikan Sutasoma. Bhatara Indra memohon kepada Wairocana agar Sutasoma dianugrahkan kekuatan Paramawisesa, sehinggaa kelak dapat mendamaikan Porusada.
Akhirnya Sutasoma yang telah mendapat pencerahan kemudian menjadi Raja Hastina setelah menyuting Diah Candrawati. Tidak lama kemudian tersebar kabar Prabu Jayantaka dari kerajaaan Ratnakala akan menyerang Hastina, dan pertempuran tak terelakkan terjadi antar pasukan Ratnakanda dengan Pasukan Hastina yang diperkuat oleh pasukan Dasabahu. Dengan kekuatan Paramawiwesa Sotasoma pun berhasil mendamaikan hati Jayantaka yang bertriwikrama menjadi porusadha. Dalam sekejap suasana terasa damai dan kemarahan pun mereda. Sabda Sotasoma sebagai tonggak penyatuan Siwa Bhuda dan Sang Budha bergema diangkasa merestui dwi tunggal Jayantaka dengan Sutasoma sebagai tonggak penyatu Siwa Bhuda. Gelar Paramawisesa Sutasoma menginspirasi Empu Tantular menyusun karya sastra dengan filsafah Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa Indonesia dengan keragaman suku, tradisi dan seni menjadi jati diri bangsa.
Dari cerita Dramatari Sutasoma Paramawisesa, menurut I Nyoman Astita sebagai Pengatur Lakon mengatakan, kepemimpinan Sutasoma dengan kedamaian. Namun sekarang rakyat berada dalam Ketata Negaraan yang selalu menimbulkan kegoncangan politik, kekuasaan dan lain sebagainya. Dari penampilan Sendratari Sutasoma Parawisesa ini pihaknya menginginkan kepada masyarakat agar kembali kepada nilai Sutasoma yang ditulis Empu Tantular yang sekarang menjadi Filsafah Indonesia adalah Bineka Tunggal Ikan Tan Hana Dharma Mangrwa . “Artinya berbeda-beda tetapi gtetap satu juga, tidak ada dharma nomor dua, dan cerita ini bisa menjadikan stategis untuk mencari seorang pemimpin yang arif dan bijaksana,” ungkapnya, Selasa (22/4).
Tidak hanya itu, tekad bulat Sutasoma didalam mempertahankan wilayah yang mau direbut dari serangan raja Ratnakanda. Atas tekad yang teguh dan dukungan sang istri, Sutasoma mempertahankan wilayah dan persatuan kesatuan nusantara. Menerapkan hidup dengan kedamaian, ketentraman serta menerima perbedaan di yang ada di nusantara. “Berdasarkan persatuan dan kesatuan dengan rakyat Sutasoma bisa mengalahkan serangan dari Prabu Jayantaka,’’ ujarnya. (Ayu/humas)