Warga Banjar Kelod Desa Pakraman Renon menggelar Karya Ngupa Ayu Prelingga Bethara, Ngenteg Linggih dan Padudusan Alit di Parhyangan Ida Bethara Ida Ratu Tuan (Baris Cina Gong Beri) Rabu (20/8). Upacara ini dipuput Ida Pedanda Putra Bluangan dari Griya Delod Peken Intaran Sanur. Dalam acara ini juga dihadiri Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara didampingi Camat Denpasar Selatan AA Gede Risnawan dan Kabag Kesra I Gusti Bagus Mataram.
Ketua Panitia, I Made Sutama mengatakan, Ida Ratu Tuan (Baris Cina Gong Beri disungsung oleh pemaksan yang berjumlah 154 KK. Sesuai dengan tatwa, karya Ngupa Ayu paling telat harus dilaksanakan 30 tahun sekali, sehingga semua regenerasi dapat melaksanan proses ini. Menurutnya Pelinggih Baris Cina berkaitan dengan Pura Blanjong serta berkaitan dengan raja pertama di Bali yaitu Sri Kesari Warmadewa pada tahun 835 saka atau tahun 913 masehi. Yang menceritakan Ki Dukuh Jumbungan, beliau mempunyai putra dan cucu dua yaitu Irengan dan Irengin. Irengan menganut aliran hitam dan Irengin menganut aliran putih. Irengan yang menganut aliran hitam ingin memecah Bali dengan Nusa Penida dan akhirnya terwujud keinginan itu yang sekarang dikenal dengan Selat Bali.
Sedangkan cerita kenapa Ida Ratu Tuan disungsung di Desa Pakraman Renon menurut penuturan Made Sutama, setelah perang, banyak ikan -ikan terdampar di Pantai Blanjong sehingga membusuk akhirnya menimbulkan wabah penyakit. Masyarakat yang tinggal di pesisir Pantai Blanjong itu mengungsi ke Renon, Cerancam, Kesiman, dan ke Lantang Hidung Sukawati. Khusus yang datang ke Renon membawa perangkat gambelan yang bernama Gong Beri. Dimana Gong Beri ini tertera dalam Prasasti Sri Kesari Warmadewa bahwa pada saat itu terjadi perang di daerah gurun dengan Gambelan Gong Beri.
Sementara untuk prosesi upacara diawali dengan penyucian, baik buana agung maupun buana alit. Penyucian itu berupa biyakaonan, caru, pengulapan, prasista yang berfungsi untuk penyucian. Setelah penyucian ini baru dilaksanakan upacara ngayaban.Sesuai tradisi di Renon malam hari setelah masyarakat semua sembahyang akan dilanjutkan dengan pengilen. Yakni Ida Bethara tedun mendak siwi di pengubengan atau sanggah di depan Pura setelah itu dilanjutkan pengilen pepatih-pepatih ngaturangayah dengan menancapkan keris didadanya atau dimana saja. Setelah proses itu selesai akhirnya acara pengeteg linggih ini dianggap selesai. Dengan itu baru ada proses penganyar pertama kedua dan ketiga dan baru penyineb pada tanggal 23 Agustus mendatang dilanjutkan dengan Upacara Nyegara Gunung pada tangga 26 Agustus mendatang di Pura Goa Lawah.
Setelah upacara ini dilaksanakan, Sutama berharap warganya mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan serta dijauhkan dari marabahaya. Sementara Wawali Jayanegara mengaku sangat apresiasi terhadap ketulusan dan kekompakan warga dalam menyelenggrakan upacara yadnya. (Ayu/humas)